Selamat Datang

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!

Psychographic

Psychographic
Kandex Psychographic

Life, Love 'n Hope

Kamis, 18 Maret 2010


Hidup. Satu kata, dua suku kata dan lima rangkaian huruf. Tapi banyak menyimpan teka-teki dan keagungan misteri dalam diri. Suatu perwujudan konkrit yang mungkin hanya dengan jedah waktu setengah nafas manusia sudah tak dapat ditebak dan disangsi lagi apa yang terjadi setelah satu nafas itu selesai. Suatu realita yang sering kali membuat jiwaku terguncang putus asa karena ketidak-pastiannya.

Tapi, dalam telanjang pikiranku, cita dan cinta merubah segala sugesti dan persepsi tentang hidup yang terkesan menjenuhkan. Hasrat yang besar akan hidup yang lebih berwarna merubah segalanya. Bahkan seperti bom waktu yang siap kapan saja meledakkan bukit-bukit keangkuhanku.

Cita dan cinta. Dua diantara banyak bab dalam novel kehidupanku. Cita, sebuah lukisan mewah di lorong waktuku. Lorong waktu yang tak pernah aku temui. Perjalanan panjang dengan derap langkah yang terpatah-patah enggan tuk tengokan jejak-jejak hitam masa silam. Tak ada batas-batas tuk menerawang dan merangkai banyak mimpi pada satu bingkai potret masa depan.
Pun tentang cinta. Batu-batu terjal seperti bukanlah aral seiring hasrat yang dalam akan tuntutan hati untuk meraih keindahannya. Tebing-tebing kokoh tak lagi kokoh seiring kerinduan hati akan kesejatiannya.

Sungguh ketidak-pastian yang agung. Tsunami jiwa yang hebat dan keterombang-ambingan nurani yang dahsyat. Tapi aku selalu percaya, Sahabat, Kekasih dan Tuhan selalu mendekap erat jiwaku dan menuntun penuh derap langkahku..Aku ingin bahagia dalam hidup, cita dan cintaku..


_*****_






Gw gak tau nama & makna tulisan ini.
Tapi jika kalian sempat baca tulisan ini, kalian harus tau, gw butuh perbaikan tulisan ini, gw butuh perbaikan hidup ini, gw butuh kalian,,,teman.

Sajak - Sajak Nestapa (2)

Malam ini, hening.
Dua titik saja air yg keluar dr kelopak mata ini, itu sangat berarti.
Karena ini kejujuran.
Ini nestapa.
Karena kau takkan pernah tau, detik-detik aku menitikkan air itu.

Sajak - Sajak Nestapa

Kemarin ia datang,
tapi hari ini ia pun pergi kembali.
Entah untuk berapa lagi lamanya.

Sepi.

Sendiri.

Sajak-sajak tentang kerinduan,
bayangnya datang dalam gelapnya malam,
sinarnya datang dalam terangnya siang.
Begitu damai dalam rasa,
teramat maya dalam mata.

Andai dunia masih memberi waktu,
aku hanya ingin mendekapmu saja,
membisikan banyak mimpi,
lalu kukecup lembut keningmu.

Sesaat itupun langit2 kan menyaksi.
Tak ada lagi sinar yang lebih terang,
tak ada lagi malam yang lebih teduh,
daripada cinta itu.

Tak ada lagi airmata yang nestapa,
tak ada lagi hati yang terluka,
dari malam2 yang ada.

Aku di Atas Jembatan Itu


Aku...
Tak bergerak dalam bumi yang gerak
Tertidur dalam nafas2 hayati
masih terdiam
membisukah ia dalam ramainya kota?

Aku...
Masih saja begitu
sampai kemarin pun hari ini
Aku tak mampu berdiri pada kedirian
kedirian yang agung
kedirian yang menyimpan senyuman
kediran yang siap untuk masa depan

Aku bias2 kehidupan pada keangkuhan
berjuta harap dalam senyap
coba menepis ini bukanlah aku

Aku...
dimanakah lorong waktu itu
jejak -jejak hitam
Renungan dalam jembatan senja yang merah
berharap malam kan segera...
Tertidur kembali dalam damai mimpi
bernafas kembali dalam fitrah diri

Aku...
bersama jembatan itu
jembatan yang dulu kokoh saat pagi aku jelang
Kini rapuh saat panas mulai menyengat.

Dan kini,...
Dimanakah jembatan yang kokoh itu?
Adakah jalan lain saat aku kembali nanti?
Masihkah mampu jembatan itu menopang hitamku?
karena satu detik dari sekarang,...
atau mungkin beberapa tahun yang akan datang,...
aku harus kembali
melewati jembatan itu kembali
tanpa satu detikpun ada penawaran.
tanpa satu kesempatanpun ditawarkan.

Senja 31 Juli

Senin, 08 Maret 2010

Sebenarnya enggan ku tuliskan ini
karena bagaimanapun ia telah pergi
Meninggalkan sekeping hati yang luka
sayap-sayap yang tak lagi bergerak..

Ini...
Disini...
Kujelang senja di penghujung Juli-ku
tak ada yang berbeda dari kemarin
masih saja sepi
masih saja ada gersang di ujung penglihatanku
airmata yang tertahan
kesedihan yang terpenjara..

Adakah ini akan terdengar
airmata akan mengalir
kesedihan akan terungkap
membasahi setiap relung jiwa-jiwa
Jiwa-sahabat yang mempedulikanku
Jiwa-kekasih yang mengasihiku
Jiwa-jiwa yang masih saja kosong disana..

Hamparan laut yang biru
terik matahari yang masih menyengat
debu-debu yang masih sering menghempas wajahku
Adakah ini masih jadi bahasa Tuhan...
tentang teguran
tentang keagungan kasih sayang
tentang nafas dan pelanggaran hidupku..

31 Juli di sisi jalan yang usang
Untuk sahabat aku masih berharap
Untuk kekasih yang masih aku rindu
Jiwa-jiwa yang memiliki jiwaku
yang masih mendekap jiwaku..

Siapa...
Dimana...
Kapan...
Masih saja ku bertanya dalam ikhtiar
dalam doa dari bibir yang keluh
hingga malam menjemput senjaku.
Aku masih saja bertanya....
Siapa. Dimana. Kapan...
31 Juli itu akan kembali.